"Segelas Kebahagian: Mango Sago Desert"
Hallo teman-teman semua. Jadi ceritanya beberapa hari lalu tepatnya pada hari jumaat, tanggal 20 november, 2025. Kebetulan orang tuaku sedang berada di Jakarta karena sedang mengikuti kegiatan. Terkadang ada momen-momen tertentu dalam hidup yang selalu terasa hangat meski sederhana. Salah satunya adalah saat berkumpul dengan orang tua setelah cukup lama terpisah karena aktivitas masing-masing. Beberapa hari lalu, aku kembali merasakan kehangatan itu ketika orang tuaku datang ke Jakarta untuk mengikuti sebuah kegiatan. Mereka sudah dua hari berada di kota ini, menjalani jadwal yang cukup padat, sementara aku dan saudaraku tetap menjalani rutinitas kuliah seperti biasa. Meski berada di kota yang sama, kami belum sempat bertemu karena jadwal yang tidak selaras. Namun pada hari kedua, setelah kegiatan mereka selesai, kami akhirnya bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan makan bersama.
Sore itu, udara Jakarta
terasa cukup bersahabat. Tidak terlalu panas, tidak pula terlalu mendung.
Suasana yang pas untuk kembali bertemu keluarga dan berbagi cerita setelah
beberapa waktu terpisah. Orang tuaku menunggu di sebuah restoran yang tidak
terlalu ramai, tempat yang cukup nyaman untuk sekadar duduk, makan, dan
berbincang. Ada rasa antusias yang muncul begitu melangkah masuk ke restoran
itu, seakan aku sedang pulang ke rumah meski sebenarnya hanya menuju meja yang
mereka duduki.
| MANGO SAGO |
Momen makan bersama dengan orang tua punya suasana berbeda dibandingkan makan dengan teman atau sendirian. Ada perasaan aman, tenang, dan penuh perhatian yang bahkan tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Saat kami bertemu, tampak jelas kelelahan di wajah mereka setelah mengikuti aktivitas seharian, tetapi senyumnya tetap hangat. Aku tahu mereka senang bisa bertemu anak-anaknya yang sudah lama merantau untuk kuliah.
Kami mulai membuka menu
sambil menunggu suasana mencair. Bukan karena canggung, tetapi lebih karena
momen melepas rindu ini selalu terasa menyentuh. Restoran itu menawarkan banyak
pilihan makanan, dari yang sederhana hingga yang cukup menggugah selera hanya
dengan melihat fotonya. Orang tua biasanya memilih makanan yang tidak terlalu
berat namun tetap mengenyangkan, sementara kami sebagai anak muda cenderung
penasaran mencoba menu baru atau sesuatu yang terlihat menarik.
Saat menelusuri menu,
mataku tertahan pada bagian terakhir dessert. Ada sesuatu tentang hidangan
penutup yang selalu berhasil menarik perhatian, mungkin karena tampilannya yang
cantik atau karena biasanya menjadi akhir yang manis setelah makan. Tanpa
berpikir panjang, aku merasa ini adalah saat yang tepat untuk memesan dessert
sebagai pelengkap momen berkumpul bersama. Rasanya seperti simbol kecil dari
kebahagiaan penutup yang manis untuk hari yang melelahkan bagi orang tua,
sekaligus penutup yang hangat untuk kesempatan melepas kangen.
Setelah memesan makanan
utama, kami mulai saling bercerita tentang aktivitas masing-masing. Orang tuaku
bercerita tentang kegiatannya yang cukup padat, mulai dari sesi pertemuan,
agenda yang harus dihadiri, hingga betapa ramainya suasana kota dibandingkan
kota tempat mereka tinggal. Di sisi lain, aku dan saudaraku bercerita tentang
kuliah, tugas-tugas yang tidak pernah habis, dan keseharian tinggal jauh dari
rumah. Meskipun sederhana, momen seperti ini sangat berarti. Kadang kita lupa
bahwa orang tua juga menanti cerita dari anaknya, karena itu menjadi cara
mereka merasa dekat meski tidak selalu bertemu.
Ketika makanan utama
datang, suasana mulai terasa lebih hangat. Aroma masakan yang menggugah selera
memenuhi meja, membuat perut yang sejak tadi menahan lapar akhirnya merasa
dimanjakan. Makan bersama orang tua selalu punya nuansa yang berbeda. Ada perhatian
kecil seperti memastikan porsi cukup, atau refleks menawari tambahan makanan.
Hal-hal sederhana seperti itu sering membuatku sadar bahwa keluarga adalah
rumah yang tidak pernah berubah, meski dunia di luar selalu berubah dengan
cepat.
Setelah menikmati
hidangan utama, saat yang aku nantikan tiba dessert. Hidangan penutup itu
disajikan dengan tampilan cantik yang langsung membuat mata berbinar.
Teksturnya lembut, warnanya menarik, dan aromanya manis. Dessert ini seperti
penanda kecil bahwa momen bersama keluarga tidak harus megah atau mewah; yang
penting adalah kebersamaan yang hangat.
Saat mencicipi dessert itu, ada rasa manis yang pas, tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat hati ikut hangat. Menikmati hidangan penutup sambil melihat orang tua yang tampak lebih rileks setelah makan membuatku merasa bersyukur. Rasanya seperti waktu berjalan sedikit lebih lambat, memberi ruang bagi kami untuk benar-benar merasakan kebersamaan ini.
Kadang, kesibukan kuliah
membuatku lupa betapa berharganya momen berkumpul dengan keluarga. Terlalu
sering terjebak dalam rutinitas hingga lupa bahwa orang tua juga merindukan
waktu bersama anak-anaknya. Dalam momen kecil seperti makan bersama ini, aku kembali
diingatkan bahwa keluarga adalah tempat untuk kembali, tempat untuk berbagi
cerita, tempat di mana rasa rindu yang lama mengendap bisa terbayar hanya
dengan kehadiran.
Dessert itu mungkin hanya
makanan manis biasa, tetapi dalam momen ini ia menjadi simbol. Simbol dari
kebahagiaan kecil, dari jeda di antara kesibukan, dari rasa syukur bisa masih
berkumpul walau hanya sebentar. Bagi orang tua, memesan dessert mungkin bukan
hal yang mereka lakukan setiap hari. Namun karena momen ini spesial, semuanya
terasa lebih berkesan.
Setelah selesai makan,
suasana terasa semakin ringan. Tawa kecil mulai muncul, cerita-cerita masa lalu
terbawa kembali, dan rasa rindu perlahan terobati. Waktu berjalan tanpa terasa,
sampai akhirnya kami sadar bahwa hari sudah mulai gelap. Meski pertemuan ini
tidak lama, tetapi cukup untuk mengisi ulang hati yang lama terasa kosong
karena jarang berkumpul.
Sebelum berpisah, aku
menatap mereka sambil menyadari bahwa momen sederhana seperti ini mungkin akan
menjadi hal yang selalu kuingat. Makan bersama setelah kegiatan mereka,
menikmati makanan yang enak, memesan dessert sebagai penutup, dan melepas
kangen setelah cukup lama tidak bertemu semuanya menyatu menjadi kenangan yang
hangat.
Dalam hidup, tidak semua
kebahagiaan datang dari hal besar. Terkadang, kebahagiaan justru muncul dari
momen kecil seperti duduk satu meja bersama keluarga, mendengar cerita mereka,
serta menikmati makanan sederhana yang terasa lebih nikmat karena disantap
bersama. Dessert yang kami pesan hari itu bukan hanya hidangan penutup, tetapi
penutup yang manis untuk waktu berharga yang diberikan Tuhan melalui
kebersamaan kami.
Dan saat kami berpisah
malam itu, aku membawa pulang rasa hangat yang sulit dijelaskan. Rasa penuh,
rasa bersyukur, dan rasa ingin menjaga setiap momen kecil bersama keluarga,
kapan pun kesempatan itu datang.
By: Yohanes Amoraman Miwa Marus
Comments
Post a Comment