Manisnya Double Choux Waktu Istirahat Setelah Kelas di UNTAR 2

 

Double Choux

Kelas hari ini selesai lebih cepat dari biasanya. Jam di layar HP baru menunjukkan pukul 13.10 waktu aku menutup laptop dan mulai beresin buku. Mata kuliah siang itu lumayan padat — banyak teori, tugas baru, dan sedikit presentasi dadakan yang sukses bikin suasana kelas agak tegang. Tapi akhirnya, ketika dosen bilang “oke, cukup sampai sini ya,” semua langsung lega. Rasanya kayak baru bebas dari maraton tiga jam tanpa jeda.

Begitu keluar kelas, udara panas siang langsung nyambut. Tapi anehnya, di balik rasa lelah itu, aku cuma kepikiran satu hal: pengen dessert. Sesuatu yang manis, lembut, dan bisa bikin mood balik lagi. Setelah duduk lama dan mikir keras, craving makanan manis tuh kayak refleks alami mahasiswa. Kayak alarm di kepala yang bilang, “kamu pantas dapat hadiah kecil.”

Aku mulai jalan santai ke arah bawah kampus Universitas Tarumanagara 2. Di antara gedung-gedung tinggi dan mahasiswa lain yang sibuk ke kantin atau nongkrong, mataku langsung tertuju ke tempat yang selalu berhasil bikin aku mampir FamilyMart. Dari jauh udah kelihatan papan hijau-biru khasnya yang terang, seolah memanggil, “sini deh, istirahat dulu.”

Begitu masuk ke dalam, hawa dingin dari AC langsung menyapa, dan aroma khas campuran kopi serta roti manis langsung nyerang hidung. Rasanya nyaman banget setelah panas-panasan di luar. Aku jalan ke arah rak dessert — bagian favorit semua mahasiswa yang butuh pelarian manis. Ada puding, mochi, cheesecake mini, es krim, dan berbagai macam roti. Tapi pandangan mataku berhenti di satu produk dengan bungkus warna ungu lembut roti cokelat dari Deland & Co.

Dari luar udah kelihatan menggoda banget. Rotinya empuk, isinya padat, dan deskripsi di kemasannya bener-bener bikin penasaran. Ada krim cokelat, topping choco cream, dan tekstur roti lembut yang katanya “pas untuk menemani waktu santai.” Tanpa mikir lama, aku langsung ambil satu dan jalan ke arah mesin FamiKiosk.

Kebetulan FamilyMart di kampus ini udah lumayan modern. Ada mesin pemesanan otomatis buat yang males antre. Cuma tinggal pilih menu, scan produk, bayar lewat QR, dan selesai. Praktis banget — cocok buat mahasiswa yang waktunya sempit tapi pengen makan enak. Setelah selesai bayar, aku keluar sambil buka bungkusnya pelan-pelan.

Begitu plastiknya terbuka setengah, aroma cokelat langsung keluar dan bikin perut makin nggak sabar. Rotinya empuk banget, kayak bantal mini cokelat. Waktu digigit pertama kali, langsung terasa kombinasi krim lembut dan sedikit rasa pahit dari dark chocolate yang seimbang dengan manisnya isi di tengah. Rasanya bener-bener comfort food.

Setiap gigitan tuh semacam momen jeda di tengah hari yang sibuk. Dunia di sekitar seakan melambat sedikit. Aku duduk di bangku depan FamilyMart, menghadap ke jalan kecil di area kampus. Beberapa mahasiswa lewat sambil ngobrol, ada yang baru keluar dari lift, ada juga yang kelihatan buru-buru ke arah parkiran. Tapi aku cuma duduk santai, menikmati setiap suapan sambil sesekali ngelihat awan yang mulai menipis di langit Jakarta Barat.

Family Mart UNTAR 2

Beberapa menit kemudian, dua teman lewat sambil nyapa.
“Wih, makan manis lagi lo?” kata salah satu sambil ketawa kecil.
Aku cuma nyengir, “Iya dong, hidup udah cukup pahit, jadi butuh penyeimbang.”

Mereka ketawa dan lanjut jalan ke arah FamiCafé buat beli kopi. Aku ngelihat mereka dari jauh sambil mikir, betapa kecil tapi berharganya momen kayak gini — cuma duduk, makan roti, dan istirahat sebentar. Di tengah rutinitas kuliah, hal sederhana begini bisa jadi momen paling jujur buat diri sendiri.

Roti cokelat ini rasanya manis tapi nggak lebay. Teksturnya lembut, filling-nya creamy tapi nggak bikin enek. Kayak percampuran pas antara rasa “nikmat” dan “nyaman.” Aku sempat baca komposisinya di belakang bungkus, dan di situ tertulis detail bahan-bahannya, termasuk kandungan gizi yang cukup lengkap. Tapi jujur, waktu lagi menikmati rasanya, aku nggak terlalu peduli soal angka kalori. Kadang kita cuma pengen menikmati tanpa mikir terlalu banyak, kan?

Di bagian bawah kemasan ada tulisan kecil: “Konsumsi berlebihan mempunyai efek laksatif.” Aku langsung ketawa kecil. Bahkan roti pun bisa ngasih nasihat halus — kalau berlebihan, efeknya nggak baik. Sama kayak hidup. Semua yang berlebihan pasti ada risikonya.

Setelah roti habis, aku masih duduk beberapa menit. Dari tempat dudukku, kelihatan banyak mahasiswa keluar masuk FamilyMart. Ada yang beli air mineral, ada yang beli onigiri, ada juga yang langsung pesen minuman dingin di FamiCafé. Suasananya hidup, tapi nggak terlalu ramai. Ada ritme tenang yang cuma bisa dirasain kalau kamu duduk diam dan memperhatikan.

Aku jadi mikir, seberapa sering sih kita memberi waktu buat diri sendiri? Kadang kita terlalu sibuk ngejar tugas, target, dan rutinitas, sampai lupa berhenti sejenak. Padahal sesuatu sesederhana makan dessert setelah kelas bisa jadi cara kecil untuk bilang ke diri sendiri: “kamu udah berusaha keras hari ini, nikmati aja dulu.”

Dan mungkin, itu alasan kenapa aku suka momen seperti ini. Nggak perlu hal besar, nggak perlu tempat fancy. Cukup sebungkus roti cokelat, udara siang yang hangat, dan beberapa menit tanpa gangguan. Di situ, rasanya semua hal kecil bisa jadi berharga.

Sambil jalan pelan balik ke gedung, aku lihat bayangan diri di pintu kaca FamilyMart. Ada rasa puas yang sederhana — bukan karena rotinya enak, tapi karena hari ini aku ngasih waktu buat istirahat tanpa rasa bersalah.

Kadang kebahagiaan emang sesederhana itu: sebuah roti manis setelah kelas pukul 13.10 di FamilyMart UNTAR 2.


By : Michael Jauwry


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukan Kesegaran Manis di Tengah Kesibukan Kampus: Cerita Camilan Seru di Momoyo Creative Hub UNTAR 2

Tiramisu Scarlett’s House: Dessert Hidden Gem di Blok-M

Ketika Matcha Bertemu Magic: Review Santai di Chapter PIK