Manis Setelah Kelas: Cerita Singkat Tentang Dorayaki & Pelarian Sore Hari

Selesai kelas hari ini, kepalaku rasanya penuh banget sama slide, tugas, dan penjelasan dosen yang entah kenapa makin lama makin berat buat dicerna. Begitu keluar ruangan, hal pertama yang terlintas di kepala bukan istirahat, bukan pulang, tapi cuma satu: aku butuh sesuatu yang manis. Bukan minuman manis yang bikin lengket, bukan snack keras yang ribut kalau dikunyah, tapi sesuatu yang lembut, yang begitu digigit rasanya langsung bikin mood membaik. Dan entah kenapa, pikiranku langsung ke dorayaki kue sederhana, lembut, manis, yang pas banget buat menenangkan jiwa setelah pikiran jungkir balik karena tugas kuliah.


Di tangan, aku pegang dorayaki yang udah sempat kugigit. Kulitnya empuk, warnanya cokelat dengan isi krim yang kelihatan lembut banget dari gigitan pertama. Teksturnya kelihatan moist, kayak sponge cake yang udah disimpan di suhu pas. Saat aku angkat sedikit plastik bungkusnya, aromanya pelan-pelan naik aroma manis khas adonan yang dipanggang, dicampur sedikit wangi krim. Rasanya benar-benar jadi pelarian cepat dari segala penat kelas barusan. Bahkan cuma dengan melihat dorayaki ini, aku udah bisa merasakan mood-ku naik beberapa tingkat. Ada sesuatu yang menyenangkan dari makanan yang sederhana tapi comforting kayak gini. Sesederhana itu, tapi seefektif itu.



Setelah keluar dari kelas, kakiku otomatis melangkah menuju tempat yang selalu jadi pelarian favoritku kalau lagi butuh sesuatu yang manis atau butuh waktu buat “reset” sebelum lanjut aktivitas. Dan seperti biasa, tujuannya cuma satu: FamilyMart. Tempat paling aman buat cari camilan random, minuman dingin, atau sekadar duduk sebentar sambil nyegerin kepala. Logo hijau–biru–putihnya yang terang selalu terasa familiar, kayak panggilan yang bilang, “sini dulu, ambil napas bentar.”

Begitu sampai di depan FamilyMart, suasananya rame tapi tetap nyaman. Lampu putihnya selalu kelihatan bersih, bikin tempat ini terasa seperti destinasi cepat buat recharge energi di tengah jadwal kuliah yang padat. Mesin self-order di depan pintu juga selalu menarik perhatian — kadang aku pakai, kadang enggak, tergantung mood. Hari ini nggak kupakai, soalnya tujuan utamaku cuma mau ambil sesuatu yang lembut dan manis, bukan pesan kopi atau makanan berat. Dari pintu kaca, aku bisa lihat jajaran makanan ringan mereka yang warna-warni, minuman dingin yang berembun, dan bagian roti yang biasanya paling cepat habis.

Sambil membuka bungkus dorayaki yang baru kubeli, aku berdiri sebentar di area depan FamilyMart, melihat orang-orang keluar masuk. Ada yang buru-buru beli air mineral, ada yang beli kopi FamiCafĂ©, dan ada juga yang cuma numpang dingin sebentar di depan kulkas. Dan di tengah semua itu, aku menikmati gigitan berikutnya dari dorayaki ini — lembutnya beneran bikin nyaman. Rasanya nggak berlebihan, nggak enek, tapi cukup buat bikin hati tenang setelah kelas panjang barusan.

Aku duduk sebentar di kursi kecil dekat pintu, mencoba menikmati momen singkat ini. Sejujurnya, momen-momen kecil seperti ini yang seringkali justru paling menenangkan. Bukan liburan jauh, bukan makan fancy, hanya beberapa menit duduk sambil makan sesuatu yang sederhana. Mungkin memang karena setelah kelas, kita cuma butuh hal-hal kecil yang bikin diri kembali seimbang. Dan dorayaki ini berhasil ngasih itu.

Sambil makan, pikiranku balik lagi ke kelas. Tadi, dosen ngomong soal hal-hal penting, tapi otakku rasanya malah nge-lag di tengah jalan. Entah karena capek, entah karena udah masuk fase “jam-jam rawan ngantuk”, atau memang karena topiknya berat. Tapi lucunya, saat makan dorayaki ini, aku bisa mikirin ulang beberapa hal dengan lebih santai. Seolah-olah makanan ini bukan cuma cemilan, tapi tombol “pause” yang bikin semuanya berhenti sebentar.

Aku melihat lagi bagian dalam dorayaki yang udah kugigit. Krimnya lembut, warnanya cerah, dan isiannya nggak pelit. Tipe cemilan yang memang pas buat dimakan pelan-pelan sambil menikmati waktu luang singkat. Dari teksturnya aja udah kelihatan kalau ini bukan tipe makanan yang terlalu manis sampai bikin bosan. Dan mungkin itu yang bikin aku memilih ini hari ini — manisnya pas, lembutnya pas, ukurannya pas. Kayak cemilan yang sengaja dibuat untuk mahasiswa habis kelas yang butuh hiburan singkat.

Di FamilyMart ini, selalu ada rasa nyaman yang aneh. Mungkin karena pencahayaan yang terang tapi nggak menyilaukan, mungkin karena rak-raknya tertata rapi, atau mungkin karena di sini aku sering datang setelah kelas, jadi otak sudah otomatis mengasosiasikan tempat ini sebagai lokasi “recovery”. Di luar pun masih ramai, suara langkah orang bergema sedikit di lantai, tapi di dalam sini semuanya terasa tenang. Ada AC yang dinginnya pas, suara lemari pendingin yang halus, dan aroma roti serta snack yang khas minimarket.

Setelah beberapa menit duduk, aku mulai merasa lebih tenang. Makananku hampir habis, tapi anehnya, aku nggak buru-buru ingin pulang. Ada momen kecil yang seringkali jarang diperhatikan: momen setelah selesai melakukan sesuatu yang melelahkan, sebelum masuk ke rutinitas berikutnya. Momen transisi ini, meskipun hanya sepuluh atau lima belas menit, bisa jadi sangat berharga kalau dinikmati. Sama seperti dorayaki ini — kamu mungkin cuma makan dalam beberapa menit, tapi efek nyamannya bisa bertahan jauh lebih lama.

Kadang, kita nggak sadar kalau kebahagiaan itu memang sesederhana ini. Sesederhana berhenti sebentar, beli sesuatu yang kita suka, dan menikmatinya tanpa terburu-buru. Dorayaki ini bukan makanan mahal, bukan sesuatu yang harus dipikirkan lama. Tapi hari ini, rasanya menjadi highlight setelah kelas yang padat. Seperti hadiah kecil buat diri sendiri karena sudah bertahan melewati jam-jam yang melelahkan.

Saat bungkusnya kosong dan hanya tersisa aroma manis di jari, aku sadar bahwa waktu singkat di FamilyMart ini udah cukup buat nurunin semua rasa capek yang tadi masih menempel. Kadang, kita cuma butuh alasan kecil buat tersenyum lagi. Dan hari ini, alasannya adalah dorayaki sederhana yang lembut dan manis.

Akhirnya aku berdiri, buang bungkusnya ke tempat sampah, dan keluar dari FamilyMart dengan perasaan lebih ringan. Matahari sore masih terasa hangat, dan langkahku terasa lebih enteng dari sebelumnya. Siapa sangka, perjalanan kecil setelah kelas buat beli dorayaki bisa jadi momen yang bener-bener bikin hari terasa lebih baik?

Ternyata, hal-hal lembut dan manis memang paling ampuh menyembuhkan sesuatu yang capek — bukan cuma badan, tapi juga hati dan kepala.

 By : Michael Jauwry

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Kesegaran Manis di Tengah Kesibukan Kampus: Cerita Camilan Seru di Momoyo Creative Hub UNTAR 2

Tiramisu Scarlett’s House: Dessert Hidden Gem di Blok-M

Ketika Matcha Bertemu Magic: Review Santai di Chapter PIK