Biscoff vs Tiramisu: Dua Rasa Favorit di Malio Gelato Yogyakarta
Biscoff vs Tiramisu: Dua Rasa Favorit di Malio Gelato Yogyakarta
By: Nareswari Marva
| Malio Gelato |
Ada sesuatu yang istimewa di balik setiap sendok gelato yang lembut dan dingin. Saat pertama kali aku mencicipi Biscoff dan Tiramisu di Malio Gelato, rasanya seperti bertemu dua kepribadian yang berbeda tapi saling melengkapi satu manis dan hangat, satu lembut dan sedikit pahit. Suasana cafenya yang cozy, lampu temaram, dan aroma kopi samar bikin pengalaman itu makin berkesan.
Malio Gelato, salah satu spot gelato yang belakangan ini ramai diperbincangkan di Yogyakarta. Dari luar, bangunannya tampak sederhana namun memikat dengan nuansa vintage modern yang memadukan dinding bata putih, lampu gantung temaram, dan aroma wangi susu serta gula yang samar-samar menyapa begitu pintu terbuka.
Begitu masuk, aku langsung disambut suasana yang terasa hangat dan hidup. Barisan etalase kaca berisi aneka warna gelato yang tampak seperti permata manis di dalam cahaya lampu kuning lembut. Di balik kaca, deretan rasa yang menarik perhatian: Strawberry Cheesecake, Matcha, Pistachio, Cookies & Cream, Biscoff, Tiramisu, dan masih banyak lagi. Aku sempat berdiri agak lama di depan etalase, mencoba memutuskan rasa mana yang akan kupilih. Tapi mata dan hati aku sudah tertuju pada dua pilihan yaitu Biscoff dan Tiramisu dua rasa yang terasa klasik tapi punya karakter yang khas. Kombinasi manis dan pahit, lembut dan renyah, seperti dua sisi dari satu pengalaman dessert yang sempurna.
Kalau kalian tipe yang suka tempat dengan vibe hangat, Malio Gelato akan langsung mencuri hatimu. Interiornya memadukan gaya industrial vintage dinding bata ekspos dicat putih, kursi besi hitam, lantai kotak hitam-putih yang menciptakan kesan retro café Eropa klasik. Pencahayaannya hangat, nggak terlalu terang tapi cukup membuat setiap sudut terasa nyaman dan fotogenik cocok banget buat kalian yang suka foto dessert cantik sebelum mencicipinya.
Di hadapan aku, dua scoop gelato tersaji dalam cup bertuliskan Malio Gelato dengan logo elegan berwarna cokelat gelap, dihiasi potongan wafer cone renyah di atasnya.
| Gelato Biscoff dan Tiramisu |
Scoop pertama yang kucicipi adalah Biscoff. Begitu sendok kecil menyentuh lidah, rasa manis karamel yang khas langsung menyebar lembut, sedikit gurih, dengan aroma rempah yang halus di ujung rasa. Rasanya seperti kehangatan biskuit yang baru keluar dari oven, tapi dalam versi dingin yang meleleh perlahan di mulut. Yang membuat aku jatuh cinta adalah teksturnya yang creamy tapi nggak berat. Gelatonya terasa dense dan halus, tapi tetap ringan, nggak bikin enek. Ada sedikit sensasi renyah dari crumble Biscoff yang tersebar di dalamnya, memberi tekstur tambahan yang bikin setiap suapan terasa hidup.
Rasa Biscoff di sini terasa lebih “elegan” dibandingkan kebanyakan versi dessert lain. Manisnya tidak berlebihan, justru pas seperti keseimbangan antara gula karamel dan sentuhan gurih dari biskuit khas Belgia itu sendiri. Dan ketika rasa manis itu perlahan hilang, tersisa aftertaste hangat seperti aroma kayu manis dan gula merah.
Setelah puas dengan kehangatan manis Biscoff, aku beralih ke scoop Tiramisu. Warna cokelat lembutnya terlihat menggoda sedikit lebih gelap dari Biscoff, dengan aroma kopi dan krim keju yang samar. Suapan pertama langsung terasa berbeda ada lembut, creamy, tapi dengan karakter rasa yang lebih kompleks. Ada pahit halus dari kopi espresso, rasa manis lembut dari mascarpone, dan sedikit hint cokelat bubuk di akhir yang memberi sensasi elegan. Rasanya nggak sekadar “manis”, tapi punya lapisan rasa yang saling berpadu seperti kamu mencicipi dessert khas Italia versi gelato.
Tiramisu ini punya aftertaste yang menenangkan. Pahitnya nggak menusuk, tapi justru menyeimbangkan rasa manis dari Biscoff. Dua rasa ini seperti pasangan serasi satu hangat dan manis, satu lembut dan sedikit pahit. Ketika aku campur sedikit di sendok, perpaduannya malah semakin sempurna. Rasa karamel Biscoff menyatu dengan kopi tiramisu, menciptakan sensasi dessert yang kaya dan elegan.
Satu hal yang aku suka dari Malio Gelato adalah konsistensi teksturnya. Gelatonya nggak cepat mencair meskipun aku sibuk foto-foto di awal (tentu saja, hal wajib sebelum makan 😆). Teksturnya tetap padat dan creamy, tapi gampang disendok tanpa terlalu beku. Penyajiannya juga cantik. Satu cup kecil diisi dua scoop yang penuh, dihiasi wafer cone yang renyah menjulang di atasnya. Warna antara Biscoff dan Tiramisu tampak serasi satu krem keemasan, satu cokelat muda terlihat kontras tapi harmonis dalam satu wadah. Sempurna untuk diabadikan dalam foto sebelum akhirnya dinikmati.
Menikmati gelato di Malio bukan cuma soal rasa, tapi juga soal suasana. Tempat ini terasa hidup tapi tetap nyaman. Banyak pengunjung yang datang berkelompok teman, pasangan, atau keluarga tapi suasananya nggak pernah terasa berisik. Setiap meja punya percakapan lembut yang diiringi tawa kecil. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat open counter tempat para barista gelato sibuk menyiapkan pesanan. Mereka menyendok gelato dengan presisi, menata topping, dan melayani pelanggan dengan senyum ramah. Ada sesuatu yang menyenangkan melihat proses itu semacam seni dalam kesederhanaan.
Kalau kamu datang sore hari, kamu bisa merasakan nuansa romantis khas Eropa kecil di tengah Yogyakarta. Lampu gantung mulai menyala, cahayanya memantul di dinding bata putih, dan udara sejuk kota pelajar ini membuat suasana makin sempurna untuk menikmati semangkuk gelato.
Setelah beberapa kali suapan terakhir, aku sadar bahwa Malio Gelato bukan cuma tempat untuk “makan es krim”, tapi tempat di mana kamu bisa menikmati momen. Baik sendirian sambil menenangkan diri setelah seharian jalan-jalan, atau bersama teman sambil berbagi cerita manis.
Rasa Biscoffnya membawa kehangatan nostalgia, sementara Tiramisunya memberi kesan elegan dan tenang. Dua rasa yang berbeda tapi saling melengkapi seperti dua suasana hati yang bersatu dalam satu cup gelato.
Harga gelato di sini juga masih tergolong ramah untuk kualitasnya, apalagi dengan suasana tempat yang cozy dan pelayanan yang ramah. Malio Gelato berhasil menghadirkan pengalaman dessert yang lengkap dari rasa, aroma, hingga suasana.
Tips dariku: datang sore menjelang malam, karena suasananya paling cantik di jam-jam itu. Jangan lupa pilih dua rasa kontras seperti aku satu manis hangat (Biscoff) dan satu lembut pahit (Tiramisu). Dijamin, kamu bakal pulang dengan senyum manis dan hati yang hangat.
Malio Gelato bukan hanya tentang gelato ini tentang moments. Tentang kehangatan Yogyakarta yang dituangkan dalam rasa manis, lembut, dan autentik.
Karena kadang, kebahagiaan sederhana bisa datang dari satu sendok gelato yang mencair pelan di lidah, sambil duduk di tempat yang membuatmu lupa waktu.
Setelah mencoba Biscoff dan Tiramisu, aku merasa Malio Gelato punya cara unik untuk bikin setiap rasa terasa spesial. Tapi tentu, tiap orang punya favoritnya sendiri kan? 😍
Kalau kamu pernah ke sini (punya rekomendasi rasa lain), atau kalau kamu berkunjung ke Malio Gelato, rasa apa yang paling pengin kamu coba duluan: Biscoff yang manis hangat atau Tiramisu yang lembut dan sedikit pahit? boleh banget tulis di kolom komentar! Siapa tahu nanti aku cobain versi pilihanmu di kunjungan berikutnya atau siapa tahu kita punya favorit yang sama! 🍦
Tulisanmu seru banget! Cara kamu menggambarkan suasana Malio Gelato dan detail rasa Biscoff serta Tiramisu bikin aku ikut kebayang ada di sana. Deskripsinya hangat, mengalir, dan bikin ngiler parah. Setelah baca ini, aku jadi pengen banget mampir dan nyobain kedua rasa itu juga!!!
ReplyDelete