Semangkok Es Teler di Tengah Ramainya Kota Jakarta

Jadi ceritanya di hari senin malam kemaren, tanggal 20 oktober 2025,kenalin nama aku, Yohanes Amoraman Miwa marus. sedikit meberi gambaran tentang jakarta. Jakarta memang  selalu punya cara sendiri untuk menenangkan pikiran. Udara terasa hangat, sedikit berdebu, polusi, namun menyimpan suasana khas kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu jalan menyala berderet di sepanjang trotoar, sementara suara kendaraan masih terus terdengar meski waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan (08.00) malam. Di sela-sela hiruk pikuk itu, aku berjalan pelan menyusuri jalan kecil di kawasan tanjun duren utara, kompleks alpukat II , mencari sesuatu yang manis untuk menemani malam yang terasa terlalu panjang untuk dihabiskan sendirian.

Sebelumnya aku baru saja makan malam di warung sederhana dekat kosan aku tinggal. Nasi goreng dan segelas es teh manis menutup rasa lapar, tapi ada keinginan kecil yang belum terpenuhi keinginan untuk menikmati sesuatu yang menyegarkan. Malam terasa terlalu hangat untuk langsung kembali ke kos. Jalanan masih ramai oleh mahasiswa yang baru pulang kuliah malam, beberapa pedagang mulai menyiapkan dagangan mereka untuk para pelanggan yang datang di jam-jam seperti ini.

Di sudut jalan yang agak redup, aku melihat warung kecil dengan papan bertuliskan “Es Teler Segar”. Meja kayu di depannya berwarna kuning pudar, dengan beberapa mangkuk putih tersusun rapi. Dari jauh, terlihat wadah berisi potongan buah: alpukat hijau yang lembut, nangka kuning yang harum, kelapa muda yang tampak segar, dan cincau hitam berkilau di bawah lampu neon. Dari pemandangan itu saja, aku sudah bisa menebak rasa yang akan datang.

Aku duduk di salah satu bangku panjang di tepi jalan, menghadap ke arah lalu lintas yang belum juga sepi. Suasana malam di Jakarta Barat memang selalu hidup. Dari arah geroba-gerobak kecil di ujung jalan terdengar suara pedagang yang masih bertransaksi, sementara aroma gorengan, sate, dan kopi sachet bercampur di udara hangat malam itu. Tidak ada angin, hanya udara lembut yang bergerak pelan, membawa sedikit debu kota yang bercampur aroma manis dari warung es teler di depanku.

Tak lama, semangkuk es teler tersaji di atas meja kayu. Mangkuknya sederhana, tapi tampilannya menenangkan. Es serut halus menutupi potongan buah di bawahnya, disiram campuran susu kental manis dan sedikit santan yang membuat warnanya tampak lembut. Alpukat, kelapa muda, dan nangka berpadu di dalamnya seperti warna-warna yang hidup. Permukaannya memantulkan cahaya lampu, menciptakan kilau kecil di antara serpihan es.

Es Teler


Sendok logam yang menunggu di sisi mangkuk terasa dingin ketika disentuh. Suapan pertama menghadirkan rasa segar yang langsung menurunkan suhu hangat malam itu. Manisnya tidak berlebihan, berpadu dengan gurih santan dan aroma khas nangka yang menenangkan. Potongan alpukat memberi tekstur lembut, sementara kelapa muda menambah rasa renyah yang kontras. Setiap suapan terasa seperti meneguk kelegaan.

Di sekitar warung, lalu lintas masih mengalir. Suara klakson mobil dan motor sesekali terdengar, namun tidak mengganggu. Justru suara-suara itu menjadi bagian dari pemandangan malam Jakarta yang sudah biasa. Di sebelahku, seorang pengemudi ojek online sedang beristirahat sambil memeriksa ponselnya. Dari kejauhan, suara radio tua dari warung sebelah memutar lagu lawas yang seolah ikut menemani. Semuanya berpadu menjadi satu harmoni kecil yang akrab, khas malam-malam di kota besar.

Sambil menikmati es teler, pikiranku melayang ke hari-hari yang sudah lewat. Rutinitas yang padat sering kali membuat lupa bahwa ada hal-hal kecil yang bisa dinikmati tanpa alasan. Jakarta Barat dengan segala kesibukannya memang tak pernah memberi banyak ruang untuk diam, tapi malam seperti ini terasa berbeda. Hangat, tapi tenang. Ramai, tapi tetap memberi ruang untuk sendiri.

Setiap suapan es teler terasa seperti jeda dari kehidupan yang serba cepat. Di tengah panasnya malam dan bisingnya kendaraan, rasa dingin dari es serut seolah menyeimbangkan semuanya. Ada sesuatu yang menenangkan dalam kesederhanaan itu rasa manis yang jujur, rasa segar yang tidak dibuat-buat, dan suasana yang apa adanya.

Waktu terasa berjalan lambat. Es di mangkuk mulai mencair perlahan, menyatu dengan susu dan santan menjadi kuah manis yang lembut. Aku mengaduknya pelan, membiarkan rasa bercampur sempurna. Di antara hiruk pikuk malam, suara langkah pejalan kaki, dan gemericik es yang beradu di sendok, semuanya terasa seperti bagian dari ritme yang damai.

Jakarta Barat di malam hari punya pesona yang tak banyak orang sadari. Ketika siang hari penuh dengan hiruk pikuk, malam justru menyimpan kehidupan kecil yang tenang warung-warung yang masih buka, obrolan ringan di trotoar, dan para pedagang yang tersenyum di bawah cahaya lampu jalan. Semuanya berjalan pelan, seolah kota ini sedang beristirahat sebentar dari kepadatan siangnya.

Mangkuk es teler di depanku kini hampir habis. Sisa esnya mencair, meninggalkan rasa manis yang lembut di lidah. Aku menatap jalan yang masih ramai dengan kendaraan yang melintas, tapi entah kenapa suasana terasa damai. Mungkin karena malam yang hangat ini membawa ketenangan dengan caranya sendiri. Tidak ada suara hujan, tidak ada angin dingin hanya udara hangat Jakarta yang berpadu dengan rasa segar dari semangkuk es teler.

Es Teler

Ketika akhirnya berdiri, waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan (09. 00). Lampu-lampu toko mulai dipadamkan satu per satu, tapi beberapa warung masih bertahan, menjadi saksi kecil kehidupan malam kota ini. Aku berjalan perlahan menyusuri trotoar, merasakan udara hangat yang menempel di kulit, sambil membawa sisa rasa manis es teler yang masih tertinggal di lidah.

Malam di Jakarta Barat tidak selalu menuntut banyak hal. Kadang, cukup dengan duduk di warung kecil di pinggir jalan, menikmati semangkuk es teler yang sederhana, dan membiarkan waktu berjalan perlahan. Dalam kesederhanaan seperti itu, ada rasa syukur yang muncul tanpa diminta. Bahwa di tengah panasnya kota, di antara suara kendaraan dan lampu-lampu neon, masih ada ruang kecil untuk diam, menikmati hidup, dan merasakan manisnya malam

 By: Yohanes Amoraman Miwa Marus

Comments

  1. Keliatannyaa segerin banget, jadi pengen coba dehh 😊

    ReplyDelete
  2. keliatannya enak dan seger bgtt,cocok buat segerin tenggorokan

    ReplyDelete
    Replies
    1. seger banget keliatannya, apalagi lagi panas panasnya Jakarta.

      Delete
    2. Bener ka senger banget, cabain dehh

      Delete
  3. Replies
    1. Ia ka enak banget, buruan cobain.

      Delete
  4. Replies
    1. asli ka recomended banget.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukan Kesegaran Manis di Tengah Kesibukan Kampus: Cerita Camilan Seru di Momoyo Creative Hub UNTAR 2

Tiramisu Scarlett’s House: Dessert Hidden Gem di Blok-M

Ketika Matcha Bertemu Magic: Review Santai di Chapter PIK