Es Campur dan Hangatnya Sore Hari
Hallo, kenalin nama saya Yohanes Amoraman Miwa Marus, jadi ceritanya pada harri minggu sore setelah mengikuti misa sore di gereja St kristoforus, aku dan adikku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Kami memilih berjalan kaki melewati trotoar
kota yang ramai namun hangat. Matahari yang mulai terbenam ke barat, memantulkan sinarnya di antara gedung-gedung tinggi dan pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Udara memang agak panas, khas Jakarta, tapi hembusan angin sore membuatnya terasa lebih bersahabat.
Sambil melangkah pelan, kami berbincang ringan tentang persiapan menghadapi uts, tentang kelurga, dan sesekali tertawa membicarakan hal-hal kecil yang lucu. Setelah berjalan cukup lama akhirnya, di sisi jalan kami melihat sebuah warung sederhana dengan spanduk bertuliskan warung kopi (warkop)
dengan bebagai menu yang di tampilkan pada spanduk yang mereka tempelkan didepan warung kopi (warkop) tersebut. Awal masuk sedikit ragu karena banyak pelanggan yang juga duduk di sana. Meja-meja kayu warna-warni tampak berjejer rapi, dan di atas etalase kaca terlihat aneka bahan es campur: potongan alpukat, nangka, cincau, kelapa muda, kolang-kaling, hingga mutiara kecil berwarna merah muda.
Tanpa berpikir lama, kami
memutuskan untuk mampir. Jakarta memang selalu menawarkan kejutan kecil seperti
ini di antara hiruk pikuk dan panasnya jalanan, selalu ada tempat sederhana
yang menyajikan kebahagiaan lewat cita rasa lokal. Kami duduk di salah satu
meja di sudut warung, sementara penjual seorang anak muda yang umurnya mukin
tidak jauh dari kami berdua, dengan senyum ramah menyambut kami dengan sapaan,
“ Mau minum apa, Bang?” Kamipun mejawab dengan senyum ramah dan terseyum. “ Es
campur bang dua” Abang penjualpun bertanya sambil terseyum tipis, “ disini apa dibungkus”, Kami pun menjawab “ disini bang”.
Tak lama kemudian, dua
mangkuk besar berwarna merah muda tersaji di depan kami. Es parut yang lembut
menutupi potongan buah dan bahan lainnya, disiram dengan sirup merah cerah dan
susu kental manis yang menggoda. Di atasnya tampak sedikit santan putih yang
menambah aroma harum. Begitu sendok pertama menyentuh lidah, rasa segar
langsung menyebar di mulut manisnya pas, tidak berlebihan, dan dinginnya terasa
menyusup sampai ke dada. Rasanya benar-benar pas untuk cuaca Jakarta yang panas
sore itu.
Kami duduk di bawah atap
warung yang terbuat dari seng, sementara suara kendaraan dan klakson dari jalan
besar di sebelahnya menjadi latar alami. Aneh, tapi justru suasana itu terasa
menenangkan. Mungkin karena di balik hiruk pikuk ibu kota, kami menemukan sudut
kecil yang tenang. tempat di mana waktu terasa berjalan lebih lambat.
Adikku menatap mangkuknya
sambil tersenyum, “Dingin banget, Kak, enak banget ya. Jarang-jarang nemu es
campur seenak ini di Jakarta.” Aku mengangguk setuju. Di tengah banyaknya kafe
modern dan minuman kekinian, rasanya menyegarkan bisa menikmati sesuatu yang
klasik, sederhana, tapi penuh nostalgia seperti ini.
Kami menikmati setiap
sendok perlahan, sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Ada pasangan muda
yang baru turun dari ojek online, beberapa anak kecil yang datang bersama orang
tuanya, dan seorang karyawan berseragam kantor yang tampak lelah tapi bahagia
menikmati semangkuk es serupa. Semua tampak berbeda, tapi punya kesamaan kecilmenemukan
kebahagiaan sederhana di tengah padatnya Jakarta.
Suasana sore semakin
hangat. Langit mulai berubah warna, dari biru terang menjadi oranye keemasan.
Di kejauhan, gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya matahari yang perlahan
tenggelam. Aku menatap pemandangan itu sambil menyeruput sisa es campurku. Di saat-saat
seperti ini, aku merasa Jakarta tidak selalu sesibuk dan sekeras yang orang
bayangkan. Ada sisi lembut dan hangatnya juga, yang hanya bisa dirasakan ketika
kita berhenti sejenak dan menikmati hal-hal kecil.
Kami pun mulai berbicara
tentang masa kecil, tentang dulu saat masih tinggal di kampung, sering menunggu
tukang es serut lewat sambil membawa gerobak kecil. Sekarang, meski hidup di
tengah kota besar, rasanya menyenangkan bisa mengulang kenangan itu walau
sebentar.
| Es campur |
Ketika mangkuk kami sudah
hampir kosong, abang-abang penjual menghampiri dan bertanya dengan ramah,
“Gimana, enak nggak, bang?” Kami menjawab hampir bersamaan, “Enak banget, bang!”
Ia tertawa kecil dan berkata, “Syukur deh, saya jualan belum lama si, tapi kalau lihat orang senang makan,
rasanya ikut senang juga.” Kalimat sederhana itu membuatku tersenyum di balik
kehidupan Jakarta yang serba maju dan modern, masih banyak orang seperti abang-abang
itu yang menjaga rasa dan kehangatan lewat hal-hal sederhana.
Setelah membayar, dengan
total Rp. 30. 000/mangkuk. kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang.
Jalanan mulai ramai, lampu-lampu kota perlahan menyala. Mobil, motor, dan
pejalan kaki saling bersahutan dalam irama khas Jakarta yang hidup. Namun entah
mengapa, langkah kami terasa ringan. Mungkin karena perut kenyang, atau mungkin
karena hati yang hangat setelah momen kecil tadi.
Adikku berkata pelan,
“Kak, minggu depan habis misa sore, kita lewat sini lagi, ya?” Aku tertawa,
“Boleh, tapi kamu yang traktir kali ini.” Kami pun tertawa bersama, suara kami
bercampur dengan deru kendaraan di jalan.
Sampai di kosan, aku duduk di teras kos sambil menatap langit malam Jakarta. Di antara gemerlap lampu kota dan suara jauh kendaraan, aku merenung betapa berharganya momen sederhana tadi. Sering kali, dalam kehidupan yang serba cepat ini, kita lupa menikmati hal-hal kecil. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali hadir lewat momen-momen tak terduga seperti semangkuk es campur di pinggir jalan, ditemani orang terdekat setelah hari yang panjang.
Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, kadang memang terasa melelahkan. Tapi sore itu, di warung kecil pinggir jalan, aku menemukan sisi lain kota ini sisi yang hangat, ramah, dan penuh cerita kecil yang menenangkan. Semangkuk es campur menjadi saksi bahwa bahkan di tengah beton dan kebisingan, selalu ada ruang untuk berhenti sejenak, tersenyum, dan bersyukur.
Mungkin, kebahagiaan
memang sesederhana itu: berjalan kaki setelah misa sore, mampir di warung
kecil, menikmati rasa manis yang menyegarkan, dan berbagi tawa dengan adik di
bawah langit senja Jakarta. Karena pada akhirnya, bukan tentang di mana kita
berada, tapi dengan siapa kita berbagi momen-momen kecil yang membuat hidup
terasa lebih bermakna, mungkin itu saja cerita saya pada hari ini terimakasih.
By: Yohanes Amoraman Miwa
Marus
Comments
Post a Comment