Perpaduan Vanilla with coffee Ja,o bajawa yang menarik
Hallo kenalin aku Yohanes Amoraman Miwa Marus, hari minggu selalu punya cerita. Entah itu tentang waktu bersama keluarga, sahabat, atau sekadar momen kecil yang jadi penyegar di tengah rutinitas seminggu penuh. Buatku, minggu pagi biasanya diawali dengan mengikuti misa. Ada rasa tenang setiap kali duduk di bangku gereja, mendengarkan doa, dan membiarkan diri larut dalam suasana syukur. Begitu misa selesai, rasanya seperti ada energi baru yang membuat hati lebih ringan.
| vailla with coffee |
Nah, Minggu kemarin agak berbeda. Setelah misa, aku dan teman memutuskan untuk tidak langsung pulang. Kami ingin melanjutkan pagi itu dengan sesuatu yang menyenangkan: makan bersama. Dari sekian banyak pilihan tempat, akhirnya kami sepakat untuk mampir ke Ja,o Bajawa, sebuah restoran yang sudah lama aku dengar namanya, tapi belum sempat kucoba. Konon, tempat ini menawarkan pengalaman makan yang unik dengan sentuhan tradisional khas Bajawa, Flores Ntt. Rasa penasaran langsung membuncah, apalagi perut juga sudah mulai memberi kode keras.
Restoran ini terletak di Daan Mogot Rd No. 27, duri kepa kebon jeruk,
Jakarta barat. Restoran ini berada di lantai 23, Begitu masuk ke restoran,
suasana hangat langsung terasa. Ada nuansa etnik yang kental, perpaduan antara
modern dan tradisional. Kursi modern, peralatan makan yang sederhana tapi
elegan, hingga aroma rempah yang samar-samar tercium dari dapur. Rasanya
seperti pulang ke rumah nenek di kampung, tapi dalam versi yang lebih rapi dan
instagrammable.
Kami memilih meja yang berada di luar
sehingga cahaya matahari bisa masuk dengan lembut dan menikmati angin dari
lantai 23 restoran tersebut. Dari sana, aku bisa melihat pemandangan gedung-gedung
Jakarta yang menjulang tinggi serta waduk yang begitu menarik, terlihat beberapa
pengunjung lain yang juga tampak menikmati makanan khas Nusantara mereka. Ada
keluarga kecil, pasangan muda, dan juga beberapa teman yang kebetulan kutemui
di sana. Rupanya, Ja,o Bajawa memang jadi pilihan banyak orang untuk
menghabiskan waktu Minggu.
Tidak butuh waktu lama, pelayan datang
dengan ramah membawa buku menu. Aku membuka lembar demi lembar, dan mataku
langsung tertuju pada sajian nasi tumpeng hijau. Bentuknya unik—nasi yang
ditata seperti gunung kecil, lengkap dengan lauk-pauk berwarna-warni di
sekelilingnya. Ada sambal yang merah menyala, sayur tumis, tempe goreng, sampai
daging sapi yang aromanya bikin air liur menetes.
Selain itu, ada juga sate khas yang
ditusuk rapi dan disajikan dengan bumbu pekat berwarna kuning kecokelatan.
Begitu ditaruh di meja, aromanya langsung memenuhi udara. Tidak lupa segelas
minuman dingin untuk menemani, dan tentu saja kopi Flores yang katanya wajib
dicoba kalau mampir ke sini.
Setiap gigitan membawa rasa yang dalam.
Nasi tumpeng hijau terasa gurih dengan sedikit wangi pandan, sate lembut dengan
bumbu rempah yang meresap sempurna, sementara sambalnya pedas mantap tapi bikin
nagih. Makan bersama teman-teman di suasana hangat seperti ini, rasanya seperti
perayaan kecil setelah doa siang di misa.
Namun, dari semua menu yang kucoba hari
itu, ada satu yang benar-benar meninggalkan kesan mendalam: es krim vanilla
with coffe yang disajikan dalam mangkuk kaca sederhana, disiram dengan kopi.
Sekilas terlihat biasa saja, tapi setelah sendok pertama, aku langsung jatuh
cinta.
Es krimnya lembut, manisnya pas, dan
ketika berpadu dengan kopi, rasanya jadi luar biasa. Ada sensasi karamel alami
yang khas, manis tapi tidak bikin enek, ditambah sedikit rasa smoky dari kopi
khasnya. Kontras dinginnya es krim dan hangatnya membuat setiap suap jadi
pengalaman baru.
Aku tersenyum sendiri sambil menikmati
hidangan penutup ini. Rasanya seperti ada keseimbangan dalam satu mangkuk
kecil: sederhana, manis, tapi penuh makna. Cocok sekali jadi penutup setelah
serangkaian sajian Nusantara yang kaya bumbu dan rasa.
Sambil menikmati es krim, obrolan kami pun
mengalir tanpa terasa. Dari topik ringan seperti film terbaru, cerita kuliah,
sampai sedikit refleksi tentang misa pagi tadi. Ada satu teman yang bilang,
"Minggu itu memang selalu ada rasanya sendiri. Seperti reset button, ya.
Setelah seminggu penuh tugas dan kesibukan, di hari Minggu kita bisa tarik
napas, kumpul bareng, dan bersyukur."
Aku mengangguk setuju. Memang benar,
Minggu selalu membawa kesempatan baru untuk menghargai hal-hal kecil. Bahkan
sekadar makan bersama di restoran seperti ini pun bisa terasa spesial kalau
dinikmati dengan hati yang lapang.
Pulang dari Ja,o Bajawa, aku merasa bukan
hanya kenyang secara fisik, tapi juga kenyang secara batin. Ada kepuasan yang
berbeda ketika bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat, sambil
mencicipi kuliner yang tidak hanya enak di lidah, tapi juga punya cerita budaya
di baliknya.
Restoran ini berhasil menghadirkan rasa
Nusantara dengan cara yang otentik sekaligus modern. Dari nasi tumpeng hijau
yang unik, sate yang kaya rempah, hingga es krim vanilla coffe yang sederhana
tapi istimewa, semua menyatu dalam pengalaman kuliner yang lengkap.
Dan yang paling penting, semuanya hadir di hari Minggu, hari yang memang diciptakan untuk beristirahat, bersyukur, dan menikmati manisnya hidup.Kalau aku boleh merangkum, pengalaman di Ja,o Bajawa setelah misa Minggu itu seperti menemukan manis kecil yang melengkapi mingguanku. Tidak hanya soal rasa makanan, tapi juga suasana, kebersamaan, dan momen refleksi sederhana yang tercipta di sela-sela tawa.
Es krim vanilla with coffe itu mungkin
hanya pencuci mulut biasa bagi sebagian orang. Tapi buatku, ia jadi simbol
bahwa hidup selalu punya sisi manis dan pahitnya, bahkan setelah melewati rasa
pedas, gurih, di hari-hari sebelumnya.
Jadi, kalau kamu mencari tempat untuk merayakan Minggu dengan cara yang sederhana tapi berkesan, Ja,o Bajawa adalah jawabannya. Siapa tahu, kamu juga akan menemukan manismu sendiri di sana entah dari semangkuk nasi tumpeng hijau, segelas kopi Flores, atau tiga scoop es krim vanilla with coffeenya.
By: Yohanes amoraman miwa marus
keliatannya perpaduannya cocok banget deh rasanyaa
ReplyDelete