Momoyo Ice Cream di Creative Hub UNTAR

Ice Cream Vanilla 
Halo, kenalin dulu, nama aku Michael Jauwry, mahasiswa semester 5. Jadi ceritanya setelah kuliah selesai tanggal 22 September pukul 15.10, aku lagi nggak langsung balik ke apartemen. Aku kepikiran buat mampir sebentar dan nikmatin sesuatu yang manis. Daripada langsung pulang dengan kepala penuh materi kuliah, aku butuh mood booster. Pilihan aku jatuh ke ice cream vanilla dari Momoyo, yang ada di Creative Hub kampus. Oh iya, sekalian aku cerita, blog ini juga sebenarnya adalah bagian dari tugas mata kuliah Pemasaran Digital. Jadi kalau kamu lagi baca tulisan ini, anggap aja kita lagi nongkrong bareng sambil ngobrol santai soal dessert, khususnya ice cream.

Aku tuh selalu ngerasa dessert itu punya kekuatan kecil tapi nyata buat bikin hari jadi lebih ringan. Dari sekian banyak dessert, ice cream jadi favorit karena vibes-nya simpel tapi penuh kenangan. Setiap sendok kayak bawa nostalgia masa kecil, di mana masalah paling besar dalam hidup cuma rebutan topping cokelat sama saudara. Dan hari itu, entah kenapa aku craving banget sama rasa vanilla. Kalau dipikir-pikir, vanilla itu rasa yang sering dianggap basic. Tapi menurut aku, justru di situ keistimewaannya. Vanilla nggak pernah gagal, selalu pas di lidah, dan jadi base buat banyak varian ice cream lainnya. Yaudahlah, vanilla kan pasti enak, nggak mungkin nggak enak.

Nah, biar lebih jelas, aku kasih gambaran dulu. Momoyo Ice Cream ini tempatnya ada di Creative Hub. Buat anak kampus yang sering cari spot nongkrong, pasti udah familiar. Suasananya cozy, ada campuran aroma kopi, suara obrolan mahasiswa, dan tentunya display es krim dengan warna-warna yang bikin ngiler. Pas aku berdiri di depan counter, aku sempet mikir mau cobain rasa lain. Tapi ujung-ujungnya tetap balik ke vanilla. Kadang kita nggak perlu ribet buat bahagia, cukup pilih yang udah pasti bikin senyum.

Bayangin aja, abis kuliah sore yang cukup padat, aku duduk di pojok Creative Hub sambil megang cup vanilla ice cream. Suasana luar masih rame, tapi di meja itu rasanya waktu jalan lebih lambat. Setiap sendok vanilla yang masuk bikin rasa capek sedikit demi sedikit hilang. Mungkin orang lain ngeliatnya sepele, cuma makan es krim. Tapi buat aku, momen ini jadi semacam “reward kecil” setelah berjuang ngadepin teori dan tugas. Bahkan ada kepuasan tersendiri, kayak “akhirnya aku bisa santai sebentar sebelum balik ke rutinitas.”

                                                                       Booth Momoyo 

Jaman sekarang, jujur aja, makan ice cream nggak berhenti di suapan terakhir. Kadang refleks pertama malah buka HP, scroll TikTok, terus kepancing buat bikin konten kecil-kecilan. Aku pun begitu. Sambil nunggu es krim agak meleleh, tangan aku otomatis buka TikTok. Isinya ya random aja, ada yang lucu, ada yang receh, sampai review makanan yang bikin makin laper. Yang menarik, banyak banget kreator bahas dessert kekinian, termasuk ice cream. Dari situ aku sadar, ternyata dessert bukan cuma soal rasa, tapi juga soal experience yang bisa dishare. Bisa jadi alasan kenapa brand kayak Momoyo cepat dikenal, karena gampang banget nyatu sama kebiasaan anak muda: makan → foto/video → upload → dapet like dan komen.

Balik lagi ke ice cream vanilla. Ada orang bilang rasa ini “plain” atau terlalu standar. Tapi justru karena kesederhanaannya, vanilla punya tempat spesial. Rasanya ringan, gampang diterima semua lidah, dan cocok dikombinasikan dengan topping apapun. Dari cokelat, strawberry, cookies, sampai saus karamel, semua klop sama vanilla. Menurut aku, vanilla itu kayak “teman lama” yang selalu bisa bikin nyaman. Kadang kita butuh hal yang simpel buat ngingetin kalau hidup nggak selalu harus rumit.

Kalau dipikir-pikir, makan dessert kayak ice cream sebenarnya lebih dari sekadar mengisi perut. Ada cerita di balik setiap gigitan. Dari momen nongkrong bareng teman, quality time bareng keluarga, atau sekadar me-time setelah kuliah. Semua itu bikin dessert jadi punya nilai lebih. Dan buat aku, cerita hari itu sederhana tapi berkesan: aku, sebuah cup vanilla ice cream, dan suasana sore yang tenang.

Jadi, begitulah kisah kecil aku bareng ice cream vanilla dari Momoyo. Mungkin buat orang lain ini cuma cerita receh, tapi buat aku, ini bagian dari rutinitas kecil yang bikin hidup lebih menyenangkan. Apalagi kalau inget ini juga bagian dari tugas kuliah Pemasaran Digital, makin kerasa kalau dessert bisa banget dikaitin sama marketing. Dari cara branding, kemasan, sampai pengalaman pelanggan. Siapa tahu setelah baca cerita ini, kamu jadi kepikiran buat nyobain juga. Karena pada akhirnya, dessert itu bukan cuma soal rasa manis, tapi soal momen yang kita simpan bareng setiap gigitannya.

By Michael Jauwry.

Comments

  1. wahh jdi pgn nyobain es krimnya jga

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku rekomen vanilla & matcha sih

      Delete
  2. aku jg baru balik ngampus, vanilla ice cream okeee nih

    ReplyDelete
  3. omg setujuu vanilla is best ice cream so much

    ReplyDelete
  4. cobain lagi dong kaa dessert di jakbar!

    ReplyDelete
  5. I like how thou elaborate upon thy experience with vanilla ice cream.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukan Kesegaran Manis di Tengah Kesibukan Kampus: Cerita Camilan Seru di Momoyo Creative Hub UNTAR 2

Tiramisu Scarlett’s House: Dessert Hidden Gem di Blok-M

Ketika Matcha Bertemu Magic: Review Santai di Chapter PIK