Kombinasi Gelato Golden Aice: Cokelat Almond yang Kaya dan Vanila Marshmallow yang Ceria

Hi aku Nathaniel nah aku mau nanya nih , Pernah nggak sih, kamu sampai di penghujung hari dengan perasaan seperti baterai ponsel yang tinggal satu persen? Itulah yang aku rasakan sore hari Jumat tgl 26 September sekitar pukul 15:30. Setelah 4 hari penuh dengan pergi latihan hampir setiap harinya, tumpukan tugas yang kuliah tak ada habisnya, dan suara notifikasi yang bersahutan, energiku benar-benar terkuras. Aku menatap keluar jendela, langit sore itu berwarna abu-abu, seolah ikut merasakan lelahnya kota ini. Di sebelahku, seorang teman menghela napas panjang, sebuah isyarat universal yang artinya sama: "aku capek." Kami saling pandang, dan tanpa perlu banyak kata, sebuah kesepakatan telepati pun tercapai. Kami butuh pelarian. Kami butuh hadiah. Kami butuh sesuatu yang manis, dingin, dan bisa memperbaiki mood yang berantakan ini.


Tanpa pikir panjang lagi, tujuan kami sudah terkunci ke Golden Aice. Bukan sekadar pilihan acak, tempat ini sudah seperti markas atau posko pertolongan pertama bagi kami saat dilanda suntuk. Rasanya seperti ada jaminan kebahagiaan instan di sana. Perjalanan singkat menuju gerainya terasa penuh antisipasi, seperti anak kecil yang menunggu dibukakan kado.

Begitu kami mendorong pintu kacanya, dunia luar yang bising dan kelabu seolah langsung terputus. Udara di dalam terasa sejuk, dan yang terpenting, ada aroma manis yang langsung menyambut. Wangi adonan wafel yang baru dipanggang berpadu dengan aroma susu yang lembut, sebuah parfum terapi yang seketika membuat pundak yang tegang sedikit lebih rileks. Mataku langsung tertuju pada etalase kaca yang paling meriah. Di baliknya, gundukan-gundukan gelato tersusun rapi, menampilkan spektrum warna yang luar biasa menggoda. Ada hijau pistachio yang kalem, pink strawberry yang ceria, cokelat gelap yang misterius, hingga biru dari rasa permen karet yang playful. Ini bukan sekadar memilih es krim, ini adalah sebuah dilema yang membahagiakan.

Setelah berputar-putar di depan etalase selama beberapa menit, akhirnya kami menetapkan pilihan yang sore itu seolah mewakili kepribadian kami masing-masing. Di sinilah duel rasa dimulai.

Temanku, yang memang dasarnya selalu optimis dan ceria, langsung memilih anggota tim pertama Vanila Marshmallow. Sebuah pilihan yang dari penampilannya saja sudah memancarkan aura kegembiraan. Warna putih gading dari gelato vanila yang klasik itu dihiasi dengan taburan mahkota marshmallow mini berwarna pink dan putih. Saat cangkir itu ada di tangannya, aku iseng mencicipi sesendok. Kesan pertamaku salah jika menganggap ini rasa yang 'aman' atau biasa saja. Begitu sendok menyentuh lidah, yang terasa adalah kelembutan yang luar biasa. Teksturnya padat namun lumer seketika, tanpa ada kristal es yang mengganggu. Rasa vanilanya terasa begitu otentik, bukan manis gula semata, tapi ada aroma floral yang wangi dan aftertaste susu yang creamy. Ini adalah rasa yang membawa nostalgia, rasa yang menenangkan seperti kenangan indah di masa kecil. Bintang utamanya tentu saja si marshmallow. Teksturnya yang kenyal-kenyal menggemaskan memberikan kontras yang sempurna. Ada sensasi seru saat menggigitnya, seolah meledak perlahan di mulut. Ini adalah gelato yang rasanya seperti sinar matahari di hari yang cerah.

Nah, di sudut lain arena, ada pilihanku yang menjadi anggota tim kedua yaitu Cokelat Almond. Jika pilihan temanku adalah tentang keceriaan, maka pilihanku adalah tentang ketenangan dan 'pelukan hangat'. Aku butuh sesuatu yang rasanya dalam dan memuaskan. Dari warnanya saja sudah terlihat pekat dan serius. Aku meminta tambahan topping irisan almond panggang untuk memberikan dimensi tekstur. Sendokan pertama adalah momen hening. Rasanya benar-benar nendang! Ini bukan cokelat susu yang manis biasa, melainkan cokelat gelap yang kaya, intens, dengan sedikit jejak rasa pahit di ujungnya yang justru membuatnya terasa mewah dan tidak bikin enek. Setiap suapan terasa melapisi seluruh mulut dengan kelezatan kakao murni. Rasanya seperti mendengarkan lagu jazz yang menenangkan di tengah hujan. Sang juara pendampingnya adalah irisan almond. Dipanggang dengan sempurna, almond itu memberikan tekstur renyah atau ‘kriuk’ yang sangat memuaskan, memecah kelembutan si gelato. Rasa gurih dan aroma nutty dari almond berpadu sempurna dengan kekayaan cokelat, menciptakan kombinasi yang terasa dewasa dan memanjakan.

Golden Aice Citra 6

Bagian paling seru dari duel rasa ini tentu saja saat kedua tim bertemu. Sudah menjadi ritual wajib bagi kami untuk saling mencicipi. 

Momen itulah yang menjadi puncak dari terapi kami. Ajaibnya, saat rasa cokelatku yang kuat bertemu dengan vanila temanku yang ringan, keduanya tidak berbenturan. Justru, mereka saling melengkapi. Setelah merasakan cokelat yang pekat, vanila itu terasa begitu segar dan ringan, seolah menjadi penyeimbang yang sempurna. Sebaliknya, setelah menikmati vanila yang lembut, rasa cokelatku terasa semakin dalam dan kompleks. Kami sampai tertawa menyadari betapa berbedanya pilihan kami, namun saat disatukan, semuanya terasa pas. Seperti persahabatan kami berbeda, namun saling melengkapi.

 Dengan satu cup kecil, Golden Aice menghadirkan perpaduan rasa khas Italia ke dalam keseharian masyarakat Indonesia manis, gurih, mewah, namun tetap terjangkau.

Jadi, foto ini tuh bukan cuma soal pamer es krim. Ini cerita tentang sore yang tadinya kelabu, tapi jadi lebih berwarna gara-gara gelato dan obrolan ngalor-ngidul. Cerita tentang gimana hal sesimpel berbagi es krim bisa bikin mood yang berantakan jadi bener lagi. Kadang, terapi terbaik itu ya sesederhana ini temen yang asyik dan dua cup gelato. Kalau kamu lagi suntuk, mungkin udah tahu kan harus lari ke mana?

By:Nathaniel ivan

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukan Kesegaran Manis di Tengah Kesibukan Kampus: Cerita Camilan Seru di Momoyo Creative Hub UNTAR 2

Tiramisu Scarlett’s House: Dessert Hidden Gem di Blok-M

Ketika Matcha Bertemu Magic: Review Santai di Chapter PIK